Skip to main content

Tempat terindah

Ketika malam bertasbih kepadaMU

Senyap begitu terasa

teringat perjalanan hidup penuh dosa

perlahan titik air mata mengalir deras

mengharap pintu taubatMu terbuka untukku...

aku dicekam takut yang mengigit...

di sisa umurku masih mampukahku menggapai RidhoMU.

.izinkan aku turut berada di tempat terindah milikMU...

bersama mereka yang KAu cintai

izinkan....


 

 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

  Untuk Anakku Aku tak punya apa apa anakku.... Hanya tanda koma dan tanda titik Beberapa tanda tanya... Sedikit tanda seru Hanya tanda koma dan tanda titik Bebebrapa tanda tanya... Sedikit tanda seru Aku tak punya apa apa anakku Hanya sedikit remah remah roti Sisa pemberianmu... Roti yg kau beri dengan cinta dan ketulusan... Aku tak punya apa apa anakku Hanya sedikit bisikan pada Tuhan Agar tanda titik yg kupunya bisa kau sematkan dibukumu Tanda tanya yang kupunya  Kau pakai sebagai topi agar tak kehujanan apalagi kepanasan Saat jiwa terasa senyap Saat kau lihat ramai  Berebut remah remah sisa pesta Kau bisa menggunakan tanda seru yg pernah ku titipkan padamu Aku tak punya apa apa anakku Hanya bisikan penuh resah Kutitipkan negri ini dibahumu Agar ia tak lupa pada tanah yg menjadikanmu ada.... # Jumatberkah # cerita  pagi 😊 16 nov 2018
  Denyut Nadi Begitu banyak warna menjelma dalam sikap merenda pergulatan hidup dalam jejek sejarah Malam menghantar sepi cahyaMu samar diujung detik berjalan cepat renta raga tak berdaya Denyut kehidupan smakin lambat didera sakit tak terhingga........ begitu dekat maut menyapa. Mengharap RahmatMu tergapai disisa nafas tersengal nyeri bibir berkeluh. Akankah......tiba saatnya. Kebumen,Maret 2010  

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

Hatiku Selembar Daun Hatiku Selembar Daun Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput; Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini; ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi   Hujan Bulan Juni tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Yang Fana Adalah Waktu Yang fana adalah waktu.  Kita abadi  memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. 1978 Pada Suatu Hari Nanti Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri...