Skip to main content

artikel



                                  KESANTUNAN BERBAHASA DI ERA MILLENIA

                                                  Oleh Emmi Kurniasih, S.Pd
                                                      Guru MAN 2 Kebumen


Zaman terus bergerak seiring waktu, perubahan pun selalu mengikiuti sesuai tuntutan kehidupan manusia. Di era yang serba digital sekarang ini orang mudah mengakses informasi dari media sosial dan internet, kemudahan ini memberi banyak manfaat bagi manusia selain memiliki dampak negatif pula. Sarana yang digunakan sebagai penyampai informasi kepada  orang lain adalah bahasa baik secara lisan maupun tertulis. Hal ini membuat bahasa pun mengalami pergeseran kesantunan bagi pemakainya karena manusia lebih suka berbicara daripada membaca, terbukti dengan masih rendahnya tingkat membaca masyarakat. Indonesia masih menduduki peringakt paling buncit alias terendah se- Asia Tenggara.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh We Are Social perusahaan asal Inggris bekerja sama dengan Hootsuite merilis laporan terbaru berjudul ‘‘Essential Insigh Into Internet, Social Media, Mobile And Ecommerce Usa Around The Word “ menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 9 jam 15 menit setiap harinya untuk berinteraksi dengan dunia maya. (detikinet,maret 2018). Hal ini mengakibatkan masyarakat Indonesia di cap paling cerewet di dunia maya.

Namun, saat berkomunikasi di dunia maya masyarakat indonesia masih banyak yang belum memperhatikan kesatunan dalam berkomunikas padahal ini sangat penting. Apa saja yang tersebar di dunia maya akan mudah direspon dengan cepat oleh siapapun dan rentan menimbulkan konflik jika kesantunan berbahasa terabaikan.
Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut “tatakrama”.
Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan dalam  komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. Oleh karena itu, masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian, terutama dalam berinteraksi di dunia maya. Dengan mengetahui tatacara berbahas diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi

Kesantunan atau etika berbicara atau  berbahasa tercermin dalam tata cara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.

Sebagian besar masyarakat indonesia pandai berbahasa indonesia, tetapi umumnya belum mahir dalam memilih kata atau kalimat yang cocok untuk situasi tertentu sehingga  sering menggunakan bentuk bahasa yang kurang sopan dan cenderung kasar. Dalam berbahasa banyak yang mesti  diingat seperti contohnya konotasi maupun pemilihan kata yang tepat. Kita juga harus memperhatikan struktur kalimat. Harus diingat kepada siapa kita berbicara, sehingga kata-kata yang digunakan dapat kita jaga dan  dapat memilih struktur kalimat dengan konteks yang tepat dan sopan.
Ada beberapa hal yang harus dihindari saat berkomunikasi di dunia maya agar tidak terjadi konflik yang disebabkan ketidaksantunan dalam berbahasa diantaranya :
  • 1.      Memberikan kritik secara langsung dengan menggunakan kalimat atau kata kasar.
  • 2.      Saat berkomuniksi hindari   rasa emosi yang reaktif
  • 3.      Terlalu protektif terhadap pendapat sendiri dan merasa paling benar dengan pendapatnya.
  • 4.      Menyampaikan kecurigaannya kepada lawan bicara dengan sengaja memberikan tuduhan negatif.
  • 5.      Sengaja memojokkan lawan bicara dengan argumen subjektif .

Pada akhirnya saat berkomunikasi di era milenia ini banyak yang harus dipertimbangkan sebellum menuliskan atau berkomentar kepada siapapun dengan memperhatikan etika atau tata krama berbahasa. Karena  budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang berbeda, masyarakat perlu menggunakan bahasa yang netral (tidak menimbulkan konflik). Dengan kesantunan yang benar dan penggunaan bahasa yang benar, dapat timbullah keharmonisan dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar khususnya di dunia maya.  
               





Comments

Popular posts from this blog

  Untuk Anakku Aku tak punya apa apa anakku.... Hanya tanda koma dan tanda titik Beberapa tanda tanya... Sedikit tanda seru Hanya tanda koma dan tanda titik Bebebrapa tanda tanya... Sedikit tanda seru Aku tak punya apa apa anakku Hanya sedikit remah remah roti Sisa pemberianmu... Roti yg kau beri dengan cinta dan ketulusan... Aku tak punya apa apa anakku Hanya sedikit bisikan pada Tuhan Agar tanda titik yg kupunya bisa kau sematkan dibukumu Tanda tanya yang kupunya  Kau pakai sebagai topi agar tak kehujanan apalagi kepanasan Saat jiwa terasa senyap Saat kau lihat ramai  Berebut remah remah sisa pesta Kau bisa menggunakan tanda seru yg pernah ku titipkan padamu Aku tak punya apa apa anakku Hanya bisikan penuh resah Kutitipkan negri ini dibahumu Agar ia tak lupa pada tanah yg menjadikanmu ada.... # Jumatberkah # cerita  pagi 😊 16 nov 2018